tugas metode riset

Nama    :               Murtiyatul Hasanah

NPM      :               16209601

Kls          :               3ea13

Analisis Jurnal  (3)

Tema : Kenaikan Harga Bahan Pokok

KENAIKAN HARGA GULA

Ibnu Purna / Hamidi / Elis 2009

Latar Belakang:

Memasuki bulan Ramadhan, harga kebutuhan kembali merambat naik. Perilaku konsumen, struktur oligopoli dan kurang lancarnya distribusi membuat kenaikan itu sulit ditahan. Permintaan masyarakat akan bahan pokok meningkat 10%-20%, sehingga wajar harga jualnya juga naik 5%-20%. Apalagi menjelang Lebaran adalah fenomena khas Indonesia, dapat dipatiskan akan terus terjadi kenaikan permintaan. Adanya peningkatan pendapatan dari pembagian Tunjangan Hari Raya (THR) cenderung membuat masyarakat menjadi tidak rasional. Demi Lebaran, apa pun mereka beli, berapa pun harganya.

Sebagaimana harga kebutuhan pada umumnya, harga kebutuhan pokok juga cenderung naik pada awal bulan puasa ini. Pergerakan harga komoditi seperti: beras, tepung terigu, gula pasir, minyak goreng, dan kedelai yang dipantau

Pada seminggu terakhir kenaikan harga terjadi hampir pada seluruh komoditi pokok yang diamati, yaitu beras sebesar Rp. 4,- (0,08%), tepung terigu sebesar Rp. 16,- (0,21%), gula pasir lokal sebesar Rp. 623,- (6,66%), minyak goreng kemasan sebesar Rp. 33,- (0,39%), minyak goreng curah sebesar Rp 54,- (0,59%) dan kedelai impor sebesar Rp. 23,- (0,29%). Sedangkan penurunan harga hanya terjadi pada komoditikedelai lokal sebesar Rp. 59,- (0,68%).

Dibandingkan dengan harga rata-rata bulan Juli 2009, maka komoditi pokok beras,  tepung terigu, gula pasir lokal,  minyak goreng kemasan dan minyak goreng curah mengalami kenaikan harga pada 31 Agustus 2009. Penurunan harga terjadi pada kedelai impor dan kedelai lokal.

Jika dibandingkan dengan harga rata-rata bulan Juni 2009, maka komoditi pokok beras, tepung terigu dan gula pasir lokal mengalami kenaikan harga pada 31 Agustus 2009. Penurunan harga terjadi pada komoditi minyak goreng kemasan, minyak goreng curah, kedelai impor dan kedelai lokal.

Kenaikan Harga Gula

Kenaikan harga gula pasir yang terus terjadi selama sebulan terakhir dipicu oleh meningkatnya kebutuhan pasar. Hal ini tidak terlepas dari tingginya permintaan dari kalangan industri makanan dan minuman yang sebelumnya menggunakan gula rafinasi. Penyerapan gula dalam negeri pun meningkat dari biasanya sebesar 250.000 ton per bulan menjadi 390.000 ton pada bulan Juli. Sementara hingga pertengahan Agustus (dalam dua pekan saja), penyerapan gula dalam negeri bahkan telah mencapai 260.000 ton. Jika pada dua pekan terakhir bulan Agustus diasumsikan tingkat penyerapannya sama dengan dua pekan pertama, maka total penyerapan pada bulan Agustus akan mendapai 520.000 ton. Artinya kebutuhan gula meningkat 108% dari kebutuhan biasanya. Oleh karena itu, operasi pasar perlu dilakukan secara menyeluruh untuk mengimbangi permintaan yang meningkat. Namun operasi pasar tersebut perlu dipantau dengan ketat agar tidak salah sasaran. Jangan sampai pedagang besar yang diuntungkan oleh operasi pasar tersebut.
Ketidakseimbangan antara kebutuhan dengan stok gula pasir di pasaran menjadi penyebab terus menanjaknya harga bahan pokok tersebut. Pada bulan Ramadhan ini, kebutuhan rumah tangga dan industri kecil terhadap gula pasir umumnya naik dua kali lipat, sedangkan stok gula di pasaran tak berubah. Kenaikan harga gula yang disebabkan oleh terbatasnya pasokan selalu terulang tiap tahun, khususnya pada saat Ramadhan dan menjelang Lebaran. Tetapi sampai saat ini kelihatannya belum ditemukan cara yang ampuh untuk mengatasinya.

Para pedagang berharap pemerintah segera menggelar operasi pasar agar stok gula meningkat dan harga normal kembali. Di pihak lain, sebagian masyarakat menyarankan agar operasi pasar tersebut tidak digelar di pasar, melainkan langsung menuju ke rumah tangga. Hal ini sangat penting untuk menghindari pembelian oleh pedagang-pedagang besar. Selain itu, pemerintah diminta pula untuk mengawasi dan memperketat rantai perdagangan gula dari penyalur pertama sampai ke pengecer supaya tidak terjadi rembesan ke industri makanan-minuman. Sebagaimana diketahui bahwa pada titik distribusi, perusahaan hanya berperan (bertanggungjawab) sampai di titik penjualan di gudang kepada penyalur pertama. Untuk sampai ke konsumen akhir, produsen gula tidak mengawasinya, dan inilah yang perlu diawasi secara ketat oleh pemerintah (instansi berwenang).
Masalah :
Kenaikan harga gula yang terjadi pada saat ini dinilai oleh sebagian kalangan merupakan peluang untuk meningkatkan produksi gula dalam negeri sehingga nantinya tidak lagi bergantung pada impor. Saat ini dianggap waktu yang paling tepat bagi industri gula dalam negeri, khususnya milik Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk memperbaiki pabrik gula (revitalisasi pabrik) dan bagi petani untuk memperluas areal tanam tebu. Kenaikan harga gula di pasar internasional telah membuat pihak industri gula rafinasi sulit untuk mengimpor produk tersebut, dan ini merupakan kesempatan untuk mendorong pabrik gula rafinasi menyerap gula tebu dari pabrik guna (PG) dalam negeri.

Tujuan :

Untuk mengetahui penyebab naikanya harga gula di pasaran pada saat bulam ramadhan,serta melihat dampak kenaikan harga gula pada masyarakat,dan cara menanggulangi kenaikan harga gula tersebut.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: